Siapa sih yang tidak mengenal Raka? Putra bungsu dan satu-satunya dari keluarga Natawirya, pemilik tunggal Natajaya Group, perusahaan raksasa yang bergerak di bidang real estate. Meskipun baru berusia 25 tahun, wajah Raka telah berulang kali menghias halaman majalah bisnis maupun arsitektur. Didampingi oleh Ranti, kakak perempuannya, ia mulai mengambil alih posisi puncak di perusahaan itu menggantikan kedua orangtua mereka.
Dibesarkan di tengah gundukan materi, Raka dan Ranti tak pernah merasakan hidup kekurangan. Namun dengan didikan sang orangtua, mereka sudah mengerti arti kerja keras sejak kecil.
Dengan wajah tampan berkharisma, tak susah bagi Raka untuk mempesona wanita. Dari gadis lugu yang terhanyut dalam pesonanya yang tenang dan dewasa, sampai dengan wanita-wanita yang silau dengan bayangan emas dan intan berlian.
Hanya saja dalam urusan cinta, Raka termasuk kurang beruntung. Beberapa kali ia disakiti oleh wanita-wanita pemuja harta.
Jumat malam pekan lalu, Raka dan beberapa teman dekatnya saat kuliah di jurusan arsitektur mengadakan pesta BBQ kecil-kecilan di villa keluarga Natawirya. Karena kesibukannya akhir-akhir ini, sudah lama Raka tidak berjumpa dengan kawan-kawan dekatnya. Maka, akhir pekan ini benar-benar mereka lalui dengan canda dan tawa bahagia.
Sabtu paginya, Raka terbangun saat matahari baru saja keluar dari peraduannya. Karena belum satupun temannya yang terbangun, Raka memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun teh yang terhampar luas di sekitar villa. Tak lupa ia membawa kameranya.
Selangkah demi selangkah ia berjalan menelusuri kebun teh. Sekilas matanya menangkap sebuah jalan setapak kecil yang terlihat sering dilalui. Sesuatu mengusiknya untuk menyusuri jalan itu. Ternyata jalan kecil itu membawanya ke sebuah rumah yang letaknya cukup tersembunyi.
Rumah itu tergolong besar dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Tak ada kesan mewah dari rumah itu, yang ada hanya kesan nyaman dan menyatu dengan alam sekitarnya. Raka yang terpesona oleh rumah itu segera mengambil kameranya dan mencari-cari sudut yang tepat untuk mengabadikan rumah itu.
Tiba-tiba terdengar keramaian dari dalam rumah itu. Raka merasa ia perlu mencari tempat yang sedikit tersembunyi. Maka ia berdiri di balik pepohonan yang memisahkan rumah itu dari kebun teh.
"Pa, berangkat.."Teriak sebuah suara memecah keheningan pagi.
Celah di antara pepohonan masih mengijinkan Raka untuk melihat ke arah rumah itu. Terlihat seorang gadis berpakaian putih abu-abu keluar dari rumah itu dan berjalan ke arah Raka. Gadis itu kemudian melintasi jalan setapak dengan langkah terburu-buru. Raka memandangi sosok gadis itu menjauh.
Ada sesuatu di sinar mata gadis itu yang menggoda Raka.
Raka bertekad untuk menemui gadis itu sekali lagi. Seminggu ini bayangan gadis itu mengganggu pikirannya. Raka tak peduli jika ia harus menunggu di jalan setapak itu sepanjang hari. Ataupun jika Raka harus mendatangi rumah itu dan bertemu dengan ayah sang gadis yang kemungkinan galak, Raka tak peduli lagi.
Maka, hari ini setelah membereskan hal-hal penting di kantornya, ia bergegas pulang dan mengatakan pada ayahnya bahwa ada sesuatu yang penting tertinggal di villa. Ia tidak berbohong, sesuatu yang amat penting tertinggal di sana.
Hatinya...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment