Malam itu dingin. Berbalut jaket Chris, Julie duduk di tepi pantai. Beberapa menit kemudian Chris kembali membawa dua gelas kopi panas. Kediaman kembali menguasai keduanya. Hanya suara ombak terdengar memecah keheningan.
Meskipun sudah lama saling mengenal, Chris dan Julie tidak pernah dekat sebelumnya. Mereka bekerja di perusahaan yang sama. Dan karena prestasi keduanya yang menakjubkan, direksi memberi mereka kesempatan untuk kembali ke bangku kuliah. Namun, komunikasi mereka hanya sebatas sapaan dan jabatan tangan formal. Tapi takdir sepertinya tak melepas mereka begitu saja.
Beberapa jam yang lalu, mereka bertemu di swalayan. Jemari mereka tak sengaja bersentuhan saat hendak meraih kaleng bir yang sama. Kencan mereka berdua sama sama berantakan malam itu. Orang yang selama ini mereka anggap mempesona, ternyata tak seindah bayangan mereka. Untuk mencerahkan suasana hati, mereka berdua memutuskan untuk membeli beberapa kaleng bir dan sekantung kembang api untuk dinikmati di tepi pantai.
Kaleng bir dibuka, Kembang api dinyalakan. Mereka berlari, berteriak, tertawa dan bercanda seolah kembali ke masa kecil. Tawa dan canda mewarnai malam. Tak diragukan lagi, mereka bahagia
Angin bulan Oktober tak lagi hangat, Chris membuka jaketnya dan memberikannya pada Julie. Setelah diyakinkan bahwa Chris tak akan kedinginan, Julie mengenakan jaket biru tua Chris.
Chris bangkit berdiri dan meminta Julie untuk tetap menunggunya disitu, ia akan segera kembali. Beberapa menit kemudian Chris kembali membawa dua gelas kopi panas. Chris menyodorkan segelas kopi panas pada Julie, lalu duduk disampingnya. Kediaman kembali menguasai keduanya. Hanya suara ombak terdengar memecah keheningan.
Setelah kediaman kembali meraja beberapa saat, Chris mulai bercerita tentang bintang-bintang selalu membuatnya terpesona. Sambil menyimak uraian Chris, Julie tak hentinya terpesona dengan penampilan Chris malam itu. Dengan kaos dan celana jeans, Chris terlihat segar. Ditambah dengan rambut coklat gelapnya yang dibiarkan lepas tanpa gel.
Sambil bercerita tentang mitos dibalik sebuah gugusan bintang, Chris tak hentinya berusaha untuk meredam degupan dadanya. Julie yang biasa terlihat kaku dan angkuh, malam ini terlihat cantik dan segar. Dengan kemeja lengan pendek dan celana 7/8, Julie terlihat santai namun mempesona. Rambut hitam sepinggangnya yang biasa digelung ketat malam ini dibiarkan terurai lepas.
Pembicaraan mengalir, mereka mendapati bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Baik dalam hal pandangan maupun kesukaan. Kenyataan bahwa bahkan kencan mereka pun sama-sama gagal malam ini tak hentinya membuat mereka tertawa.
Sesaat mereka terdiam, disibukkan dengan pikiran masing-masing. Mereka merasakan hal yang sama, memiliki pertanyaan yang sama, namun tak tahu bagaimana memulainya.
Tak lama kemudian Chris angkat bicara, ia mengatakan bahwa ia amat bahagia malam ini dan malam ini sangat berkesan baginya. Meskipun kedengarannya aneh, ia bersyukur bahwa kencan mereka berantakan malam itu. Karena ia tak akan pernah merasakan apa yang dia rasakan sekarang jika saja kencan mereka sukses malam itu. Setelah sejenak mengatasi keterkejutannya, Julie tersenyum dan mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
Seiring dengan munculnya semburat merah di ujung langit, Julie bangkit berdiri dan mengatakan sudah saatnya mereka pulang karena mereka harus menghadiri kuliah sore nanti.
Chris bangkit berdiri, lalu meraih tangan Julie. Mereka berdua berjalan beriringan ke area parkiran. Tak ada kata yang terucap, namun sebuah jalinan terbentuk dalam genggaman tangan.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka memasuki mobil masing-masing. Mereka berkendara pulang dengan senyum.
*based on my fave song
Meskipun sudah lama saling mengenal, Chris dan Julie tidak pernah dekat sebelumnya. Mereka bekerja di perusahaan yang sama. Dan karena prestasi keduanya yang menakjubkan, direksi memberi mereka kesempatan untuk kembali ke bangku kuliah. Namun, komunikasi mereka hanya sebatas sapaan dan jabatan tangan formal. Tapi takdir sepertinya tak melepas mereka begitu saja.
Beberapa jam yang lalu, mereka bertemu di swalayan. Jemari mereka tak sengaja bersentuhan saat hendak meraih kaleng bir yang sama. Kencan mereka berdua sama sama berantakan malam itu. Orang yang selama ini mereka anggap mempesona, ternyata tak seindah bayangan mereka. Untuk mencerahkan suasana hati, mereka berdua memutuskan untuk membeli beberapa kaleng bir dan sekantung kembang api untuk dinikmati di tepi pantai.
Kaleng bir dibuka, Kembang api dinyalakan. Mereka berlari, berteriak, tertawa dan bercanda seolah kembali ke masa kecil. Tawa dan canda mewarnai malam. Tak diragukan lagi, mereka bahagia
Angin bulan Oktober tak lagi hangat, Chris membuka jaketnya dan memberikannya pada Julie. Setelah diyakinkan bahwa Chris tak akan kedinginan, Julie mengenakan jaket biru tua Chris.
Chris bangkit berdiri dan meminta Julie untuk tetap menunggunya disitu, ia akan segera kembali. Beberapa menit kemudian Chris kembali membawa dua gelas kopi panas. Chris menyodorkan segelas kopi panas pada Julie, lalu duduk disampingnya. Kediaman kembali menguasai keduanya. Hanya suara ombak terdengar memecah keheningan.
Setelah kediaman kembali meraja beberapa saat, Chris mulai bercerita tentang bintang-bintang selalu membuatnya terpesona. Sambil menyimak uraian Chris, Julie tak hentinya terpesona dengan penampilan Chris malam itu. Dengan kaos dan celana jeans, Chris terlihat segar. Ditambah dengan rambut coklat gelapnya yang dibiarkan lepas tanpa gel.
Sambil bercerita tentang mitos dibalik sebuah gugusan bintang, Chris tak hentinya berusaha untuk meredam degupan dadanya. Julie yang biasa terlihat kaku dan angkuh, malam ini terlihat cantik dan segar. Dengan kemeja lengan pendek dan celana 7/8, Julie terlihat santai namun mempesona. Rambut hitam sepinggangnya yang biasa digelung ketat malam ini dibiarkan terurai lepas.
Pembicaraan mengalir, mereka mendapati bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Baik dalam hal pandangan maupun kesukaan. Kenyataan bahwa bahkan kencan mereka pun sama-sama gagal malam ini tak hentinya membuat mereka tertawa.
Sesaat mereka terdiam, disibukkan dengan pikiran masing-masing. Mereka merasakan hal yang sama, memiliki pertanyaan yang sama, namun tak tahu bagaimana memulainya.
Tak lama kemudian Chris angkat bicara, ia mengatakan bahwa ia amat bahagia malam ini dan malam ini sangat berkesan baginya. Meskipun kedengarannya aneh, ia bersyukur bahwa kencan mereka berantakan malam itu. Karena ia tak akan pernah merasakan apa yang dia rasakan sekarang jika saja kencan mereka sukses malam itu. Setelah sejenak mengatasi keterkejutannya, Julie tersenyum dan mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
Seiring dengan munculnya semburat merah di ujung langit, Julie bangkit berdiri dan mengatakan sudah saatnya mereka pulang karena mereka harus menghadiri kuliah sore nanti.
Chris bangkit berdiri, lalu meraih tangan Julie. Mereka berdua berjalan beriringan ke area parkiran. Tak ada kata yang terucap, namun sebuah jalinan terbentuk dalam genggaman tangan.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka memasuki mobil masing-masing. Mereka berkendara pulang dengan senyum.
*based on my fave song

No comments:
Post a Comment