Sunday, February 11, 2007

Raka Adrian Natawirya

Siapa sih yang tidak mengenal Raka? Putra bungsu dan satu-satunya dari keluarga Natawirya, pemilik tunggal Natajaya Group, perusahaan raksasa yang bergerak di bidang real estate. Meskipun baru berusia 25 tahun, wajah Raka telah berulang kali menghias halaman majalah bisnis maupun arsitektur. Didampingi oleh Ranti, kakak perempuannya, ia mulai mengambil alih posisi puncak di perusahaan itu menggantikan kedua orangtua mereka.

Dibesarkan di tengah gundukan materi, Raka dan Ranti tak pernah merasakan hidup kekurangan. Namun dengan didikan sang orangtua, mereka sudah mengerti arti kerja keras sejak kecil.

Dengan wajah tampan berkharisma, tak susah bagi Raka untuk mempesona wanita. Dari gadis lugu yang terhanyut dalam pesonanya yang tenang dan dewasa, sampai dengan wanita-wanita yang silau dengan bayangan emas dan intan berlian.

Hanya saja dalam urusan cinta, Raka termasuk kurang beruntung. Beberapa kali ia disakiti oleh wanita-wanita pemuja harta.

Jumat malam pekan lalu, Raka dan beberapa teman dekatnya saat kuliah di jurusan arsitektur mengadakan pesta BBQ kecil-kecilan di villa keluarga Natawirya. Karena kesibukannya akhir-akhir ini, sudah lama Raka tidak berjumpa dengan kawan-kawan dekatnya. Maka, akhir pekan ini benar-benar mereka lalui dengan canda dan tawa bahagia.

Sabtu paginya, Raka terbangun saat matahari baru saja keluar dari peraduannya. Karena belum satupun temannya yang terbangun, Raka memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun teh yang terhampar luas di sekitar villa. Tak lupa ia membawa kameranya.

Selangkah demi selangkah ia berjalan menelusuri kebun teh. Sekilas matanya menangkap sebuah jalan setapak kecil yang terlihat sering dilalui. Sesuatu mengusiknya untuk menyusuri jalan itu. Ternyata jalan kecil itu membawanya ke sebuah rumah yang letaknya cukup tersembunyi.

Rumah itu tergolong besar dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Tak ada kesan mewah dari rumah itu, yang ada hanya kesan nyaman dan menyatu dengan alam sekitarnya. Raka yang terpesona oleh rumah itu segera mengambil kameranya dan mencari-cari sudut yang tepat untuk mengabadikan rumah itu.

Tiba-tiba terdengar keramaian dari dalam rumah itu. Raka merasa ia perlu mencari tempat yang sedikit tersembunyi. Maka ia berdiri di balik pepohonan yang memisahkan rumah itu dari kebun teh.

"Pa, berangkat.."Teriak sebuah suara memecah keheningan pagi.

Celah di antara pepohonan masih mengijinkan Raka untuk melihat ke arah rumah itu. Terlihat seorang gadis berpakaian putih abu-abu keluar dari rumah itu dan berjalan ke arah Raka. Gadis itu kemudian melintasi jalan setapak dengan langkah terburu-buru. Raka memandangi sosok gadis itu menjauh.

Ada sesuatu di sinar mata gadis itu yang menggoda Raka.

Raka bertekad untuk menemui gadis itu sekali lagi. Seminggu ini bayangan gadis itu mengganggu pikirannya. Raka tak peduli jika ia harus menunggu di jalan setapak itu sepanjang hari. Ataupun jika Raka harus mendatangi rumah itu dan bertemu dengan ayah sang gadis yang kemungkinan galak, Raka tak peduli lagi.

Maka, hari ini setelah membereskan hal-hal penting di kantornya, ia bergegas pulang dan mengatakan pada ayahnya bahwa ada sesuatu yang penting tertinggal di villa. Ia tidak berbohong, sesuatu yang amat penting tertinggal di sana.

Hatinya
...

Cheese Cake

Malam itu begitu meriah. Terlebih di rumah Astrid. Seperti malam tahun baru di tahun-tahun sebelumnya, malam ini rumah Astrid yang luas penuh sesak oleh tamu, baik teman-temannya maupun relasi orangtuanya.

Meskipun memiliki harta yang mampu menjaminnya untuk hidup senang, Astrid tak pernah memilih-milih dalam hal berteman. Ia ramah kepada siapapun juga. Oleh karena itu, ia memiliki banyak teman. Hanya saja, yang benar-benar teman sejati baginya dapat dihitung dengan jari. Salah satunya adalah Andra. Mereka bersama sejak TK, kedua gadis itu seakan bertumbuh bersama. Diantara teman yang datang dan pergi, Astrid dan Andra selalu bersama.

"Ra, arah jam sepuluh. Ampe ngeces tuh ngeliatin elo."Bisik Astrid pelan.

"Gila, lo. Itu mah si Theo. Dia ngeces bukan ngeliatin gue. Dia ngeces ngeliat meja makan." Mereka berdua menahan tawa yang hampir meledak.

"Eh liat deh, Trid. Ada cowok ganteng kesini tuh. Dia dah ngeliatin elo dari tadi. Sukses ya, Sis. Gue mo ke dapur ngembat Cheese Cake lo dulu. Ngiler gue dari tadi."

"Eh, gila. Yang bener, lo. Itu si Matt, kan? Anak uni sebelah?" Sahut Astrid sambil melirik ke arah yang ditunjukkan Andra.

"Eh, gue dah rapi belum?" Sambung Astrid sambil berusaha tetap terlihat tenang.

"Ra???" Yah... kabur duluan tuh anak. Moga moga Cheese Cake gue gak ludes ama dia semua. Amin.


Di dapur, Andra yang sudah terbayang Cheese Cake sejak siang tadi menghampiri kepala pelayan dan bertanya dimana gerangan Astrid menyembunyikan sang Cheese Cake.

Tak sengaja Andra bertabrakan seseorang saat berjalan sambil tersenyum-senyum membayangkan adegan romantis yang akan segera dijalaninya dengan Cheese Cake tercinta. Garpu ditangannya pun jatuh berkelontangan saat beradu dengan lantai.

"Ah, sorry." Oh, wow!!

"Tak apa. Kamu pasti Andra. Teman Astrid?"

Kaku amat bahasa indonesianya. Wah.. matanya coklat muda. Bule nyasar kali ye... "Eh?? Oh... Iya. Gue Andra. Kok bisa tau?"

"Aku pernah melihat kamu di foto graduation Astrid. Aku Brian, Astrid's cousin." Ucapnya sambil mengulurkan tangan

Ah... Brian yang di UK. Bokapnya orang sono. Wah, ganteng amit... leleh deh gue. "Oh... Ah, iya. Mo Cheese Cake gak?"

"Cheese Cake?"

"Yup. Di kulkas."

"Sounds great." Dan pembicaraan pun berlanjut di antara dentingan garpu dan potongan Cheese Cake.


Sementara itu di ruang tamu, OMG OMG. Deg-degan gue. Copot jantung gue. Duh... Ganteng banget sih lo, Matt.

"Astrid, kan? Aku Matt. Aku sering ngeliat kamu di acara-acara antar kampus tapi baru kali ini dapet kesempatan kenalan sama kamu." Kata Matt sambil menampilkan senyum manis yang sanggup melelehkan semua makhluk berjenis kelamin wanita.

"Kamu cantik banget malem ini, Trid" Nyakkk... aye dibilang cantik ama Matt.

"Kamu juga keren banget malem ini, Matt."

"Keren doang, nih? Gak ganteng, dong?" Matt mengeluarkan senyum jahilnya.

"Iya deh... Iya... Ganteng..."

Kecanggungan sejenak meliputi mereka. Namun Sesaat kemudian terdengar musik dimainkan. Matt mengulurkan tangannya mengajak Astrid berdansa.

Merekapun berdansa di tengah ruangan. Mamiiiiii........ anakmu lagi dansa ama pangeran tampan berkuda putih.... Jantung Astrid berdetak keras sekali. Di satu sisi, ia ingin lagu ini cepat selesai. Ia takut jantungnya menggelinding keluar dari badannya. Di sisi lain, Astrid ingin waktu terhenti di saat ini.


"Ehm... Matt, aku mau ke dapur. Mo ngeliat si Andra masih nyisain Cheese Cake gak buat aku. Ikut, yuk." Ajak Astrid saat lagu sudah berganti dengan lagu pesanan relasi orangtuanya.

"Cheese Cake? Ok, kenapa nggak."


"Oh, disini lo ternyata. Dicariin nyokap lo. Ngilang mulu sih. EH!! ngapain lo deket-deket Cheese Cake gue. Bukannya ga demen, lo?" Tanya Astrid galak pada Brian saat melihat sepupunya itu sedang menikmati Cheese Cake berdua Andra di dapur.

"I never said that I hate Cheese Cake. Besides, it's very nice talking with Andra."

Astrid dan Matt kemudian bergabung dengan mereka. Pembicaraan berlangsung hangat diselingi tawa dan canda. Dua pasang hati menjalin menyatu malam itu. Apakah karena suasana malam tahun baru? Atau karena Cheese Cake?

*Ada yang mau Cheese Cake?

Mengalir Bersama Malam

Malam itu dingin. Berbalut jaket Chris, Julie duduk di tepi pantai. Beberapa menit kemudian Chris kembali membawa dua gelas kopi panas. Kediaman kembali menguasai keduanya. Hanya suara ombak terdengar memecah keheningan.

Meskipun sudah lama saling mengenal, Chris dan Julie tidak pernah dekat sebelumnya. Mereka bekerja di perusahaan yang sama. Dan karena prestasi keduanya yang menakjubkan, direksi memberi mereka kesempatan untuk kembali ke bangku kuliah. Namun, komunikasi mereka hanya sebatas sapaan dan jabatan tangan formal. Tapi takdir sepertinya tak melepas mereka begitu saja.

Beberapa jam yang lalu, mereka bertemu di swalayan. Jemari mereka tak sengaja bersentuhan saat hendak meraih kaleng bir yang sama. Kencan mereka berdua sama sama berantakan malam itu. Orang yang selama ini mereka anggap mempesona, ternyata tak seindah bayangan mereka. Untuk mencerahkan suasana hati, mereka berdua memutuskan untuk membeli beberapa kaleng bir dan sekantung kembang api untuk dinikmati di tepi pantai.

Kaleng bir dibuka, Kembang api dinyalakan. Mereka berlari, berteriak, tertawa dan bercanda seolah kembali ke masa kecil. Tawa dan canda mewarnai malam. Tak diragukan lagi, mereka bahagia

Angin bulan Oktober tak lagi hangat, Chris membuka jaketnya dan memberikannya pada Julie. Setelah diyakinkan bahwa Chris tak akan kedinginan, Julie mengenakan jaket biru tua Chris.

Chris bangkit berdiri dan meminta Julie untuk tetap menunggunya disitu, ia akan segera kembali. Beberapa menit kemudian Chris kembali membawa dua gelas kopi panas. Chris menyodorkan segelas kopi panas pada Julie, lalu duduk disampingnya. Kediaman kembali menguasai keduanya. Hanya suara ombak terdengar memecah keheningan.

Setelah kediaman kembali meraja beberapa saat, Chris mulai bercerita tentang bintang-bintang selalu membuatnya terpesona. Sambil menyimak uraian Chris, Julie tak hentinya terpesona dengan penampilan Chris malam itu. Dengan kaos dan celana jeans, Chris terlihat segar. Ditambah dengan rambut coklat gelapnya yang dibiarkan lepas tanpa gel.

Sambil bercerita tentang mitos dibalik sebuah gugusan bintang, Chris tak hentinya berusaha untuk meredam degupan dadanya. Julie yang biasa terlihat kaku dan angkuh, malam ini terlihat cantik dan segar. Dengan kemeja lengan pendek dan celana 7/8, Julie terlihat santai namun mempesona. Rambut hitam sepinggangnya yang biasa digelung ketat malam ini dibiarkan terurai lepas.

Pembicaraan mengalir, mereka mendapati bahwa mereka memiliki banyak kesamaan. Baik dalam hal pandangan maupun kesukaan. Kenyataan bahwa bahkan kencan mereka pun sama-sama gagal malam ini tak hentinya membuat mereka tertawa.

Sesaat mereka terdiam, disibukkan dengan pikiran masing-masing. Mereka merasakan hal yang sama, memiliki pertanyaan yang sama, namun tak tahu bagaimana memulainya.

Tak lama kemudian Chris angkat bicara, ia mengatakan bahwa ia amat bahagia malam ini dan malam ini sangat berkesan baginya. Meskipun kedengarannya aneh, ia bersyukur bahwa kencan mereka berantakan malam itu. Karena ia tak akan pernah merasakan apa yang dia rasakan sekarang jika saja kencan mereka sukses malam itu. Setelah sejenak mengatasi keterkejutannya, Julie tersenyum dan mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama.

Seiring dengan munculnya semburat merah di ujung langit, Julie bangkit berdiri dan mengatakan sudah saatnya mereka pulang karena mereka harus menghadiri kuliah sore nanti.

Chris bangkit berdiri, lalu meraih tangan Julie. Mereka berdua berjalan beriringan ke area parkiran. Tak ada kata yang terucap, namun sebuah jalinan terbentuk dalam genggaman tangan.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka memasuki mobil masing-masing. Mereka berkendara pulang dengan senyum.


*based on my fave song